Okay …. Sekarang gue pengen share sebuah film Dokumenter Indonesia, berjudul “Cerita Dari Tapal Batas”. Sebuah dokumenter panjang yang di sutradarai Wisnu Adi.
Sebuah film dokumenter yang menurut gue berhasil memotret sisi lain dari pulau “Borneo” yang selama ini hanya gue tahu tentang ke-eksotisannya. Okey, disini diperlihatkan betapa eksotisnya alam Kalimantan Barat. Tapi bukan ini yang jadi benang merah di film ini, kondisi masyarakat di Dusun Badat Baru, Kecamatan Entikong (yang merupakan perbatasan terluar antara Indonesia – Malaysia) yang “TERMARJINALKAN” menjadi point film yang di produksi Keana Production & Communication ini.
Dibuka dengan kisah ibu Martini, seorang tenaga pengajar tunggal yang telah mengabdikan dirinya selama 8 tahun di sebuah Sekolah Dasar di Dusun Badat Baru kecamatan Entikong, Kalimantan Barat. Perjalanan dari tempat tinggalnya di desa Semangit memakan waktu 8 Jam lebih untuk menempuh Sekolah Dasar tempatnya bertugas. Menggunakan perahu melawan arus sungai dan melewati riam-riam sungai yang tak gampang menjadi kebiasaan ibu guru Martini.
Tinggal di rumah dinas dekat sekolah juga bukan suatu hal istimewa, kenapa? Jika kita lihat kondisi rumah dinas ini, gue pribadi gak bisa bilang ini sebuah rumah yang pantas untuk ditinggali seorang pengabdi seperti Ibu Martini. Apalagi ketika diperlihatkan WC dari rumah ini, waduh gue speechless.
Sebagai pengajar tunggal beliau mengurus sekolah seorang diri, sebagai Kepala Sekolah, Pengajar, Tukang bersih-bersih pula. Hanya seorang tenaga honorer yang membantunya. Karena tak akan ada pengajar yang mau bertahan dengan kondisi semacam ini, ujar ibu Martini. Miris!
Tapi semangat pengabdian Ibu Martini terekam dengan sangat tulus di film ini, disela-sela persiapannya menuju sekolah misalnya, atau menunggu jemputan diperjalanan, ibu Martini selalu berdendang lagu kesukaannya. Dalam benak gue, mungkin ibu Martini berpikir, ya siapa lagi yang bisa menghibur selain diri sendiri… Betul bu? 🙂
Harapan ibu guru Martini cuma satu, beliau tidak ingin masa depan anak-anak di dusun ini buruk, yang hanya berakhir menjadi pencari ringgit Malaysia.

Lain profesi tapi bernasib sama dengan Ibu guru Martini, pak Kusnadi seorang mantri kesehatan yang mengabdikan dirinya untuk mengobati masyarakat menjelajah dari dusun ke dusun terluar dia daerah perbatasan ini. Medan tempuhnya pun tak kalah menantang (kalau boleh dibilang menyiksa :D). Karena masyarakat dusun-dusun tersebut tidak mampu untuk berobat ke kecamatan, selain dari medan tempuh yang jauh (gue gak perlu bahas infrastruktur yang sama sekali tak tersentuh teknologi ya), mereka harus menghabiskan dana sekitar 2 juta untuk perjalanan berobat. Apaaaaaaaahhhh????? Ya Tuhan 😦
Maka dari itu sosok pak Kusnadi sebagai mantri keliling ini sangat berharga untuk mereka. Berkeliling membawa berbagai obat-obatan untuk masyarakat. Melihat penduduk sehat saja sudah senang.Ujar pak Kusnadi.
Gue gak bisa bayangin kalo misal pengabdi seperti pak Kusnadi jatuh sakit, atau bahkan tidak betah dan memilih meninggalkan tugas.

Selain kedua pengabdi tadi, di sorot pula masalah Human trafficking di film ini.
Elly yang menjadi korban Human Trafficking, menceritakan bagaimana dia tertipu janji-janji hidup enak, tapi akhirnya harus kembali dengan membawa kekecewaan 😦 .
Kita juga akan dibuat miris dengan pengetahuan penduduk tentang Indonesia. Ada yang tidak tahu mata uang Rupiah karena yang mereka pergunakan adalah Ringgit Malaysia, atau ketidak tahuan mereka tentang lagu Indonesia Raya, bahkan memaknai garuda yang ada di bajunya pun mereka tidak tahu. Bagi mereka Indonesia adalah pelengkap identitas belaka. Hikhikhik

Film yang di produseri Ichwan Persada, dan Marcella Zalianty sebagai produser Eksekutif ini, sama sekali tidak ada tendensi menyoal konflik perbatasan Indonesia dan Malaysia yang sempat mencuat, murni menyoroti kondisi masyarakat nan miris di daerah pelosok Kalimantan Barat tersebut.
Menurut gue tidak heran film ini masuk sebagai salah satu nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011 lalu. Karena berhasil membuat gue merenung betapa bahagianya orang-orang yang hidup dengan sentuhan teknologi :D.
Sebuah film yang sangat layak untuk ditonton semua orang yang mengaku Indonesia, Pemerintah terutama! Berkenankah???

Selamat Menonton! 

PS: Untuk karya terbaik anak bangsa, jangan beli bajakan ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s