Film dari Teddy Soeriaatmadja, yang memenangkan Donny Damara sebagai Best Actor di Asian Film Award 2012, dan Nominasi untuk Best Director di ajang yang sama, serta official selection di beberapa film festival ini menghadirkan kisah yang tidak begitu istimewa sebenarnya, kalau boleh dibilang pernah ada cerita serupa (meskipun bukan cerita utama) di film lain. Tapi Lovely Men disajikan dengan lebih intense dalam kesederhanaan. Tidak menitik beratkan pada tokoh waria namun bukan pula tokoh sisipan cerita. Sisi manusiawi yang menyentuh, dialog yang tidak begitu berat tapi berbobot, sudah menjadikan film ini enak dan asik untuk ditonton.
Cahaya (Raihaanun), sejak kecil sudah ditinggalkan sang bapak Syaiful/Ipuy (Donny Damara), yang dia ketahui kalau bapaknya masih ada dan setiap bulan mengirimkan uang untuk biaya sekolahnya. Ketertutupan sang ibu tentang keberadaan bapaknya membuat Cahaya nekat untuk mencari dan menemui bapaknya yang diketahui tinggal di Jakarta. Kenyataan diluar dugaan Cahaya tentang bapaknya, sempat menghindar ketika Cahaya tahu kalau bapaknya adalah seorang waria yang menjajakan dirinya untuk mendapatkan uang.
Akhirnya Cahaya memberanikan diri bertatapan dengan Ipuy setelah dipaksa untuk mengakui siapa dirinya. Penolakan terhadap kehadiran anaknya yang tiba-tiba membuat Ipuy merasa kaget dan mungkin malu dengan keadaanya yang harus diketahui anaknya. Kepolosan Cahaya meluluhkan Ipuy yang berkeras mengusir anaknya. Dari sini di mulai hubungan ayah anak yang “aneh” dengan dialog yang kadang lucu dan banyak menyentuh. Satu persatu ayah anak ini saling menceritakan dirinya masing-masing, masalah berat masing-masing. Setting Jakarta lewat malam hari digambarkan dari sisi marginal menjadi salah satu kekuatan Lovely Man.
Donny Damara terasa sangat menikmati peran Ipuy, genit dan bicara khas waria mampu dilakoni dengan baik. Namun ketika harus jadi bapak yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya, pun mampu dilakoni Donny Damara dengan baik. Raihaanun yang menurut gue masih bisa mengeksplorasi tokoh Cahaya..heheheh, cukup untuk mengimbangi karakter Ipuy yang emosinya turun naik.
Menyajikan sisi manusiawi dari kehidupan “termarjinalkan”, cukup menjadikan alasan film ini layak masuk daftar koleksi.
Selamat Menonton!
PS: Untuk karya terbaik anak bangsa, jangan beli bajakan ya 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s