Hip-hip Horeeeee….. begitulah mungkin bentuk verbal perasaan gue yang norak ketika akhirnya terlaksana untuk melakukan trip ke daerah Baduy dalam. Sudah sangat lama gue pengen mengunjungi salah satu daerah di provinsi Banten yang mempunyai banyak kearifan lokal unik. Eksotisme yang selama ini hanya gue denger, baca dan lihat di berbagai blog dan situs berbagi video, akhirnya akan gue nikmati dan rasakan sendiri. (Mas, lebhay deh mas. // Biarin!!!!). Dan yang paling bikin bahagia sih karena di Baduy dalam gue bakal terputus total dari koneksi gadget-geradget. Dan lagi, hati gue bersorak… Hip-hip Horeeeee……

Oh iya, gue dalam trip ini mengandalkan jasa open trip yang di koordinir oleh www.kilikili-adventure.com yang kece. Dan ini adalah open trip pertama gue..hohoho. Tau dong kalau open trip berarti bakal ketemu orang-orang baru, ya siapa tau kan bisa nambah banyak temen, nambah perkhazanahan calon jodoh juga gitu. (Mas inget umur, mas.. // Oh iya ya gue tua sendiri..).

Karena bahas umur itu bikin sakit, jadi lanjut bahas tripnya aja deh ya. Start dari meeting point Stasiun kereta Tanah abang, dan gue saking semangetnya, abis subuh langsung gedor pintu abang ojek dan sukses datang paling pagi… yesssss. Setelah terkumpul semua, bertatap muka dan kenalan ber hay-hay hey-hey gitu, FIX… Gue sadar kalau gue paling tua. FINE!!.

Oke, akhirnya gue berkenalan dengan Oky sang crew pemandu, Agus yang katanya kadang suka dipanggil Smith (owh, okheeyyy) dan lima cewek kece, Nunu, Qorry dan tiga sekawan, Tias, Nanda dan Diah. Setelah siap semua, gue, eh sekarang jadi kita berdelapan deng (Kita??? Lu doang kali, mas. // iyeee…iyee…) naik Commuter line yang akan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, jadi kalau kebetulan dapet tempat duduk bisa lah nerusin jatah tidur yang minus karena kita, eh, gue biasa bangun siang :D. Dua jam yang hanya diisi tidur dan obrolan sekilas-sekilas karena masih ngantuk, akhirnya berakhir dan kita sampai di stasiun tujuan akhir, Stasiun Rangkas, Banten.

Sudah sampai??? Ya belumlah, masih ada dua jam perjalanan dengan angkot/elf untuk sampai ke desa Ciboleger, pintu masuk ke wilayah Baduy luar. Oke mari kita nikmati kembali dua jam perjalanan dengan ngalor ngidul. Dan terbukti kan dengan ngalor ngidul, dua jam perjalanan tetep saja berasa dua jam, bahahahah. Dan setelah dua jam yang sama sekali gak bisa tidur, taraaaaaa… akhirnya sekitar jam sebelas kita sampai di Ciboleger.

Ciboleger.jpg
Selamat datang di Ciboleger. Foto: OmarSu
IMG-20170508-WA0019
Ya bolelah foto bareng yak. Foto: Oky   ©kilikili-adventure

Masuk gerbang Baduy dalam kita segera disuguhi barisan rumah-rumah adat dengan banyak cenderamata dan berbagai buah tangan lainnya yang bisa kita beli untuk oleh-oleh, banyak juga suku Baduy dalam yang sedang berkunjung ke baduy luar bisa kita lihat dan bahkan berfoto bersama mereka. Di Baduy luar ini kita masih diperbolehkan menggunakan gadget dan sebagainya, termasuk menggunakan personal care seperti sabun mandi dan sebagainya.

handcraft
Cinderamata khas Baduy. Foto: OmarSu
3 baduy kecil
Adik-adik dari suku Baduy dalam. Foto: OmarSu
souvenir girl
Neng geulis penjual cinderamata. Foto: OmarSu

Setelah makan siang, istirahat dan sholat, akhirnya penantian gue selama ini dimulai, dengan di temani perwakilan dari Baduy dalam (Kang Yasrip) yang juga tuan rumah kami menginap disana dan dari Baduy luar (Kang Jahadi) sebagai pemandu lokal , perjalanan kurang lebih empat jam dengan berjalan kaki menuju Baduy dalam, Yeaayyyyyy!!! Dan Alhamdulillah dari awal perjalanan kita sudah disertai hujan.. Hihihi. Jadi jas hujan ringan sepertinya perlengkapan yang wajib dibawa dalam trip ini, untuk antisipasi hujan.

start point
Start point perjalanan menuju Baduy dalam. Foto: OmarSu
setapak batu
Rumah adat Baduy luar. Foto: OmarSu
nenun
Menenun. Foto: OmarSu
ladies
Cewek-cewek tangguh! Foto: OmarSu

Sejak memulai jalan kaki, gue pribadi yang memang sudah merindukan suasana dan aroma alam dari tanah dan pohon-pohonan, (Lebhay lagi deh, mas // Biarin atuh ih) merasa sangat dimanjakan dengan setapak dan suasana yang dilewati. Cuma berhubung hujan yang menemani perjalanan cukup deras, jadi gue tidak bisa mengeluarkan hape yang tidak anti air ini untuk ambil-ambil gambar yang kece-kece. Tapi biarlah, memori gue masih cukup bagus untuk menyimpannya, dan kelak akan gue ceritakan sama anak cucu gue *Tttssssaaahhhhh. Toh masih ada yang bawa kamera anti air, yang bisa dipinjem gambarnya ntar, hahahha. Dan beberapa gambar disini memang minjem 😛

Ada beberapa desa Baduy luar yang kami lewati selama perjalanan, diantaranya jadi tempat istirahat kami, di hampir setiap rumah, perempuannya menenun kain-kain khas Baduy yang kece-kece. Lanjut perjalanan yang sebagian besar melewati jalan batu, jadi musti hati-hati karena perjalanan dengan hujan menambah nilai plus pada batu-batu tersebut, LICIN!. Sebagian lagi setapak dengan tanah merah yang lumayan bikin lengket melangkah, hehehhe. Jadi setiap nemu aliran air hujan/sungai kita bisa keciprakan bersihin tanah yang nempel di sendal. Jadi disarankan menggunakan sendal/sepatu gunung yang memadai untuk antisipasi perjalanan cuaca hujan. Oh iya, diperjalanan berangkat ini kami sukses menyematkan gelar Miss Glesor pada the one and only…*Drum Roll* Tiaasssss…. Karena setiap istirahat dan melihat tempat yang bisa di glesorin, dia langsung ngglesor syantik kayak di rumah nenek gitu. Bahahahha.

pergi 4
Foto: Oky ©kilikili-adventure
pergi 3
Saba kampung. Foto: Oky ©kilikili-adventure
DSCF6370
Foto: Oky ©kilikili-adventure
pergi 1
Foto: Oky ©kilikili-adventure

Bohong aja kalau berjalan sejauh itu tidak capek, ya sama halnya juga dengan gue, tapi karena emang gue suka dan pengen banget, ya dinikmatin aja, selain dengan mengeluh capek akan mengurangi keseruan treking, juga bisa memengaruhi semangat kawan seperjalanan, jadi jangan banyak ngeluh yaaa… hohoho.

Semakin masuk kedalam semakin terasa suasana yang gue cari, aroma alam dengan bunyi-bunyian serangga hutan yang menenangkan :D. Dan sampailah di perbatasan Baduy luar dan Baduy dalam, waktunya matiin gadget-geradget… Horeeeeee. Email kantor dan group WA kantor kita berpisah sejenak ya… Bhaaayyyyyy.

Kemudian tiba di trek yang menurut gue pribadi paling seru, “Tanjakan cinta” ayem kamiiinnggggg. Yang namanya tanjakan ya pasti nanjak ya, sobs, hahaha. Bedanya yang ini sedikit plus tanjakannya.. :D. Tapi dengan pemandangan bukit-bukit berkabut yang makjosss dimata, kami melewati tanjakan tanah namun penuh cinta ini dengan lancar :D.

Sekitar jam 5 sore akhirnya perjalanan hari ini berakhir, kami tiba di tujuan akhir “SELAMAT DATANG DI CIBEO, BADUY DALAM”. Bukan main senengnya gue ketika masuk melangkah ke desa ini, karena apa? Karena pas banget dengan apa yang ada dibayangan dan ekspektasi gue tentang kondisi Baduy dalam. Keren euy!. Rumah-rumah adat panggung (yeng sedikit berbeda dengan baduy luar), halaman-halaman dengan batu dan rumput. Dan yang makin bikin keren, kampung ini bersih banget sodara-sodara. Jadi sungguh terrlaaaaallllu kalau kita datang dan masih juga buang sampah sembarangan, malu dan sama sekali gak keren, sobs.

Penduduknyapun ramah-ramah, dan karena gue berasal dari daerah sunda juga, gue bisa langsung berbicara dengan mereka menggunakan bahasa daerah sunda, hehehhe. Melihat suasana seperti ini, terbantahkan semua anggapan  atau ketakutan sebagian orang yang ingin mengunjungi Baduy dalam. Takut dengan mistis-mistisnya, orangnya-orangnya hingga yang takut karena gak ada toilet.. :P. Okelah ya setiap daerah mempunyai kearifan lokal yang beragam, tapi selama kita berniat baik untuk bertamu dan bersilaturahim, menghormati adat dan menghargai penduduk lokal, semuanya akan baik-baik saja, sobs :D. Dan memang benar, tidak ada sanitasi memadai di kampung ini, semuanya tentang sungai .. hehehe. Untuk pengunjung yang ingin bersih-bersih, ada semacam jamban yang bisa digunakan untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.

Menjelang gelap, sebagian penduduk lokal yang berkegiatan diladang bukit (Huma, dalam bahasa sunda) kembali menuju kampung dengan ikatan-ikatan kayu bakar digendongan mereka. Jika bayangan yang menggendong kayu bakar itu adalah laki-laki, salah, mereka adalah penduduk perempuan yang kebanyakan masih sangat muda-muda. (Kalau guemah kayaknya gak kuat dah bawa gendongan kayu bakar segitu :P). Karena bagi mereka tidak ada batasan umur untuk bekerja, jika seorang anak sudah dirasa mampu untuk melakukan pekerjaan dewasa, ya sudah. Seperti diperjalanan sebelumnya, kami bertemu anak kecil usia sekitar sembilan atau sepuluh tahun (yang akhirnya Tias kepincut karena anaknya ganteng banget…hahhaha) menjadi jasa potter membawa beberapa tas besar pengunjung dengan pikulan. Buat gue pemandangan seperti itu, extraordinary!.

Ketika gelap datang, suasana kampung benar-benar gelap, sumber penerangan hanya berasal dari lampu templok kecil dengan bahan bakar minyak kelapa. Itu saja, hehehhe. Jadi jika ada pengunjung hendak keluar rumah bisa menggunakan senter yang dibawa masing-masing. Kami sendiri lebih memilih menghabiskan malam sesuai itinerary, setelah sholat (oh iya, masyarakat baduy sebagian besar menganut kepercayaan Sunda wiwitan yang lebih mengedepankan kepercayaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur, tapi mereka menghargai dan memberikan kebebasan pada pengunjung untuk melaksanakan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Keren dan indah ya toleransi itu, sobs 😀) dan makan malam kami ngobrol-ngobrol ringan dengan tuan rumah, dan tentunya acara khusus dari panitia untuk saling berkenalan lebih dekat dengan peserta-peserta yang lain. Waktu yang tepat buat modus dan tebar pesona nih… (Masih gak nyadar umur, mas? // oh iya, Astagfirullah). Intinya acara untuk saling mengenal biar lebih akrab gitu dah. Dan benar saja, dengan obrolan lebih dekat ini, gue jadi tau kalau teman-teman perjalanan ini adalah manusia-manusia muda Indonesia yang penuh potensi dengan profesi masing-masing. Dan belakangan gue jadi minder baca tulisan-tulisan mereka yang keren-keren, hahaha. Tapi yang pasti kami mempunyai satu tujuan yang sama, menikmati alam dan budaya Indonesia untuk sejenak melepaskan pernak-pernik kehidupan dikota (Situ orang kota, mas? // orang kampung juga sih // yaudah, gitu aja // Laaahhhh….. ).

Lepas acara ngobrol-ngobrol kami dipersilahkan untuk beristirahat, gue sendiri lebih memilih sejenak ngobrol ringan didepan Hawu, tungku api tradisional, suasana yang hampir gak pernah gue temuin lagi selama ini, bareng Oky dan kang Jahadi sang pemandu baduy luar, menikmati beberapa batang rokok dan kopi. Karena kami sama-sama bisa bebahasa sunda, alhasil terciptalah obrolan malam bernuansa sunda. Hahahha. Satu obrolan yang berhasil bikin ngakak, si kang Jahadi ini paling gak bisa tidur dikereta, ketika gue tanya kenapa, dengan polos jawabannya dalam bahasa sunda “Takut tiba-tiba kepala hilang” Laaahhhhhh, ….. Bahahahaha. Aya-aya wae si akang mah lah. Sebenernya ada yang kelupaan gue tanya selama trip ini, kenapa sepanjang perjalanan gue gak nemuin satupun tempat pemakaman seperti umumnya. Dan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang kelupaan itu, gue andelin kang google aja ya, menurut yang gue baca di beberapa blog, orang baduy dimakamkan dengan tanah diratakan, tidak menyembul seperti makam pada umumnya, hanya di tanami pohon hanjuang diatas makamnya. Dan setelah beberapa hari yang ditentukan, makam tersebut boleh digunakan lagi untuk keperluan lainnya. (Tolong koreksi bila gue salah informasi :D).

Hari besoknya. Bangun pagi dengan udara yang tidak terlalu dingin, menikmati suasana pagi jika memungkinkan adalah salah satu menu yang tidak boleh gue lewatkan jika berada ditempat baru, begitupun di tempat ini, suasana pagi disungai dipenuhi kegiatan penduduk lokal untuk mencuci dan kegiatan lain, yang berladang segera menuju ke ladang-ladang dengan langkah-langkah gesit mereka menaiki tanjakan. Suara air sungai dan udara dingin itu bagai stimulan yang cukup efektif mendinginkan kepala..hahaha. setelah sedikit terang, beberapa penduduk lokal mendatangi pengunjung untuk menawarkan cinderamata dan kerajinan tangan mereka, mulai dari gelang-gelang anyaman sampai kain-kain tenun tradisional yang dalam perjalanan kemarin gue lihat pembuatannya.

Setelah selesai ritual pagi masing-masing, packing dan sarapan, sekitar jam delapan, tiba waktunya untuk berpamitan dan kembali pulang, karena sesuai peraturan, tamu yang berkunjung tidak diperkenankan lebih dari satu malam … hehehe. Dan lalu gue pun beranjak padahal masih betah, sambil dadah-dadah ala miss unipers… (ih agak cuco ya…ppfffttttt).

Jalur pulang kami berbeda dengan jalur keberangkatan, karena kami akan melalui jalur jembatan akar… yahaayyyyyy. Berbeda pula dengan cuaca, di perjalanan pulang ini matahari yang seksi dan nakal terus meningkahi. Tapi jaket yang kemarin basah jadi kering di perjalan pulang ini. Hahahhaha. Rute perjalananpun gue rasa tidak terlalu seperti kemarin, cukup banyak jalan datar, hanya sebelum jembatan akar saja yang cukup curam, hehhhe. Dan sangat ajaib, ada rombongan pembawa kayu gelondong dipikul, dan melewati jalur itu dengan cuek aja, dan gue pun melongo. Pemandangan di rute inipun tidak kalah dengan rute kemarin. Tiba di jembatan akar kamipun disuguhi pemandangan sungai yang aduhai. Jujur aja gue takut ketinggian, dan ketika berada di atas jembatan ini gue selalu berpegangan erat pada hatimu, eh pada akar-akarnya maksud gue. (aduuuhhh… masih usaha, mas? // yanamanya juga usaha..hahaha // serahlu dah) Photo-photo dan sejenak menikmati keindahan dari atas jembatan akar ini sepertinya wajib, biar afdol. Hehehe.

pulang 2
Mari pulang, marilah pulang… Foto: Oky ©kilikili-adventure
pulang 2
Ketika Agus “Smith” bernyanyi, semua berharap perjalanan segera usai.. Bahahaha. Foto: OmarSu
jemur padi
Jemur padi. Foto: OmarSu
manusia2kuat
Manusia-manusia kuat. Foto: OmarSu
padu amprok
Kampung baru yang lagi dibangun. Foto: OmarSu
kang yasrip
Kang Yasrip, pemandu lokal sekaligus tuan rumah dari Baduy dalam. Foto: OmarSu
jembatan akar 2
Inilah, the famous one and only destination, Jembatan akar. Foto: OmarSu
pulang 1
kumpulll… kumpulll… Foto: Oky ©kilikili-adventure
baduy Dalam vs baduy luar
Baduy Dalam (Kang Yasrip) & Baduy Luar (Kang Jahadi). Foto: OmarSu

Tidak begitu lama setelah lokasi jembatan akar, kamipun sampai di tempat ojek-ojek yang siap mengantar ke tempat dimana angkot yang akan membawa kami kembali ke stasiun Rangkas menunggu. Diatas ojek gue berharap bisa sedikit meredam sedikit pegel-pegel dikaki, tapi ternyataaaa… jrenng jreeeeng.. (Kamera zoom in ala sinetron) gue pun harus menikmati jalanan nanjak dan turun yang cukup banyak dan semuanya batu-batu kasar, pake drama ban motornya bocor segala..Hahahha. Meskipun waktu tempuh hampir sama dengan perjalanan berangkat, tapi gue ngerasa cepet aja di perjalanan pulang ini, tak terasa sudah sampai di tempat angkot menunggu kami. Sejenak istirahat dan bersih-bersih, lalu siap kembali menikmati dua jam menuju stasiun kereta Rangkas :D.

Dan tujuan akhir stasiun Tanah abang pun menjadi titik terakhir perjalanan kami dua hari ini. Sekitar jam tujuh malam akhirnya perjalanan berakhir dan kami harus kembali ke habitat masing-masing ( oohhh iya mas lu kan di…. // iyaaa.. iyaaa… bonbin). Open trip pertama gue yang sangat memuaskan, tujuan sesuai ekspektasi dan menyenangkan bisa bertemu manusia-manusia muda yang mencintai Indonesia.

Terimakasih Oky dari www.kilikili-adventure.com sudah jadi pemandu yang baik hati dan tidak sombong karena rajin minum kopi, mas Agus… eh Smith yang kocak, Nunu, Qorry dan The Powerpuff girls Tias, Nanda dan Diah, kalian perempuan-perempuan tangguh!. Senang bisa melakukan trip dan berkenalan dengan kalian, semoga bisa bertemu kembali dilain kesempatan ya, guys. Terimakasih juga untuk Kang Yasrip dan Kang Jahadi yang sudah jadi pemandu lokal yang baik hati juga.

Dan dengan berakhirnya lagu dari album Frank Sinatra (Bentar, mas, yakin Sinatra? bukan lagu bunda Rita // Sssstttt, udah mau penutupan nih masih aja becanda), gue mengakhiri cerita perjalanan dua hari menuju “Eksotisme hening” ini. Sampai ketemu dicerita yang lainnya. See youuu….

Play your life and capture!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s