Pengalaman menapaki “Eksotisme Hening” Baduy dalam.

Hip-hip Horeeeee….. begitulah mungkin bentuk verbal perasaan gue yang norak ketika akhirnya terlaksana untuk melakukan trip ke daerah Baduy dalam. Sudah sangat lama gue pengen mengunjungi salah satu daerah di provinsi Banten yang mempunyai banyak kearifan lokal unik. Eksotisme yang selama ini hanya gue denger, baca dan lihat di berbagai blog dan situs berbagi video, akhirnya akan gue nikmati dan rasakan sendiri. (Mas, lebhay deh mas. // Biarin!!!!). Dan yang paling bikin bahagia sih karena di Baduy dalam gue bakal terputus total dari koneksi gadget-geradget. Dan lagi, hati gue bersorak… Hip-hip Horeeeee……

Oh iya, gue dalam trip ini mengandalkan jasa open trip yang di koordinir oleh www.kilikili-adventure.com yang kece. Dan ini adalah open trip pertama gue..hohoho. Tau dong kalau open trip berarti bakal ketemu orang-orang baru, ya siapa tau kan bisa nambah banyak temen, nambah perkhazanahan calon jodoh juga gitu. (Mas inget umur, mas.. // Oh iya ya gue tua sendiri..).

Karena bahas umur itu bikin sakit, jadi lanjut bahas tripnya aja deh ya. Start dari meeting point Stasiun kereta Tanah abang, dan gue saking semangetnya, abis subuh langsung gedor pintu abang ojek dan sukses datang paling pagi… yesssss. Setelah terkumpul semua, bertatap muka dan kenalan ber hay-hay hey-hey gitu, FIX… Gue sadar kalau gue paling tua. FINE!!.

Oke, akhirnya gue berkenalan dengan Oky sang crew pemandu, Agus yang katanya kadang suka dipanggil Smith (owh, okheeyyy) dan lima cewek kece, Nunu, Qorry dan tiga sekawan, Tias, Nanda dan Diah. Setelah siap semua, gue, eh sekarang jadi kita berdelapan deng (Kita??? Lu doang kali, mas. // iyeee…iyee…) naik Commuter line yang akan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, jadi kalau kebetulan dapet tempat duduk bisa lah nerusin jatah tidur yang minus karena kita, eh, gue biasa bangun siang :D. Dua jam yang hanya diisi tidur dan obrolan sekilas-sekilas karena masih ngantuk, akhirnya berakhir dan kita sampai di stasiun tujuan akhir, Stasiun Rangkas, Banten.

Sudah sampai??? Ya belumlah, masih ada dua jam perjalanan dengan angkot/elf untuk sampai ke desa Ciboleger, pintu masuk ke wilayah Baduy luar. Oke mari kita nikmati kembali dua jam perjalanan dengan ngalor ngidul. Dan terbukti kan dengan ngalor ngidul, dua jam perjalanan tetep saja berasa dua jam, bahahahah. Dan setelah dua jam yang sama sekali gak bisa tidur, taraaaaaa… akhirnya sekitar jam sebelas kita sampai di Ciboleger.

Ciboleger.jpg
Selamat datang di Ciboleger. Foto: OmarSu
IMG-20170508-WA0019
Ya bolelah foto bareng yak. Foto: Oky   ©kilikili-adventure

Masuk gerbang Baduy dalam kita segera disuguhi barisan rumah-rumah adat dengan banyak cenderamata dan berbagai buah tangan lainnya yang bisa kita beli untuk oleh-oleh, banyak juga suku Baduy dalam yang sedang berkunjung ke baduy luar bisa kita lihat dan bahkan berfoto bersama mereka. Di Baduy luar ini kita masih diperbolehkan menggunakan gadget dan sebagainya, termasuk menggunakan personal care seperti sabun mandi dan sebagainya.

handcraft
Cinderamata khas Baduy. Foto: OmarSu
3 baduy kecil
Adik-adik dari suku Baduy dalam. Foto: OmarSu
souvenir girl
Neng geulis penjual cinderamata. Foto: OmarSu

Setelah makan siang, istirahat dan sholat, akhirnya penantian gue selama ini dimulai, dengan di temani perwakilan dari Baduy dalam (Kang Yasrip) yang juga tuan rumah kami menginap disana dan dari Baduy luar (Kang Jahadi) sebagai pemandu lokal , perjalanan kurang lebih empat jam dengan berjalan kaki menuju Baduy dalam, Yeaayyyyyy!!! Dan Alhamdulillah dari awal perjalanan kita sudah disertai hujan.. Hihihi. Jadi jas hujan ringan sepertinya perlengkapan yang wajib dibawa dalam trip ini, untuk antisipasi hujan.

start point
Start point perjalanan menuju Baduy dalam. Foto: OmarSu
setapak batu
Rumah adat Baduy luar. Foto: OmarSu
nenun
Menenun. Foto: OmarSu
ladies
Cewek-cewek tangguh! Foto: OmarSu

Sejak memulai jalan kaki, gue pribadi yang memang sudah merindukan suasana dan aroma alam dari tanah dan pohon-pohonan, (Lebhay lagi deh, mas // Biarin atuh ih) merasa sangat dimanjakan dengan setapak dan suasana yang dilewati. Cuma berhubung hujan yang menemani perjalanan cukup deras, jadi gue tidak bisa mengeluarkan hape yang tidak anti air ini untuk ambil-ambil gambar yang kece-kece. Tapi biarlah, memori gue masih cukup bagus untuk menyimpannya, dan kelak akan gue ceritakan sama anak cucu gue *Tttssssaaahhhhh. Toh masih ada yang bawa kamera anti air, yang bisa dipinjem gambarnya ntar, hahahha. Dan beberapa gambar disini memang minjem 😛

Ada beberapa desa Baduy luar yang kami lewati selama perjalanan, diantaranya jadi tempat istirahat kami, di hampir setiap rumah, perempuannya menenun kain-kain khas Baduy yang kece-kece. Lanjut perjalanan yang sebagian besar melewati jalan batu, jadi musti hati-hati karena perjalanan dengan hujan menambah nilai plus pada batu-batu tersebut, LICIN!. Sebagian lagi setapak dengan tanah merah yang lumayan bikin lengket melangkah, hehehhe. Jadi setiap nemu aliran air hujan/sungai kita bisa keciprakan bersihin tanah yang nempel di sendal. Jadi disarankan menggunakan sendal/sepatu gunung yang memadai untuk antisipasi perjalanan cuaca hujan. Oh iya, diperjalanan berangkat ini kami sukses menyematkan gelar Miss Glesor pada the one and only…*Drum Roll* Tiaasssss…. Karena setiap istirahat dan melihat tempat yang bisa di glesorin, dia langsung ngglesor syantik kayak di rumah nenek gitu. Bahahahha.

pergi 4
Foto: Oky ©kilikili-adventure
pergi 3
Saba kampung. Foto: Oky ©kilikili-adventure
DSCF6370
Foto: Oky ©kilikili-adventure
pergi 1
Foto: Oky ©kilikili-adventure

Bohong aja kalau berjalan sejauh itu tidak capek, ya sama halnya juga dengan gue, tapi karena emang gue suka dan pengen banget, ya dinikmatin aja, selain dengan mengeluh capek akan mengurangi keseruan treking, juga bisa memengaruhi semangat kawan seperjalanan, jadi jangan banyak ngeluh yaaa… hohoho.

Semakin masuk kedalam semakin terasa suasana yang gue cari, aroma alam dengan bunyi-bunyian serangga hutan yang menenangkan :D. Dan sampailah di perbatasan Baduy luar dan Baduy dalam, waktunya matiin gadget-geradget… Horeeeeee. Email kantor dan group WA kantor kita berpisah sejenak ya… Bhaaayyyyyy.

Kemudian tiba di trek yang menurut gue pribadi paling seru, “Tanjakan cinta” ayem kamiiinnggggg. Yang namanya tanjakan ya pasti nanjak ya, sobs, hahaha. Bedanya yang ini sedikit plus tanjakannya.. :D. Tapi dengan pemandangan bukit-bukit berkabut yang makjosss dimata, kami melewati tanjakan tanah namun penuh cinta ini dengan lancar :D.

Sekitar jam 5 sore akhirnya perjalanan hari ini berakhir, kami tiba di tujuan akhir “SELAMAT DATANG DI CIBEO, BADUY DALAM”. Bukan main senengnya gue ketika masuk melangkah ke desa ini, karena apa? Karena pas banget dengan apa yang ada dibayangan dan ekspektasi gue tentang kondisi Baduy dalam. Keren euy!. Rumah-rumah adat panggung (yeng sedikit berbeda dengan baduy luar), halaman-halaman dengan batu dan rumput. Dan yang makin bikin keren, kampung ini bersih banget sodara-sodara. Jadi sungguh terrlaaaaallllu kalau kita datang dan masih juga buang sampah sembarangan, malu dan sama sekali gak keren, sobs.

Penduduknyapun ramah-ramah, dan karena gue berasal dari daerah sunda juga, gue bisa langsung berbicara dengan mereka menggunakan bahasa daerah sunda, hehehhe. Melihat suasana seperti ini, terbantahkan semua anggapan  atau ketakutan sebagian orang yang ingin mengunjungi Baduy dalam. Takut dengan mistis-mistisnya, orangnya-orangnya hingga yang takut karena gak ada toilet.. :P. Okelah ya setiap daerah mempunyai kearifan lokal yang beragam, tapi selama kita berniat baik untuk bertamu dan bersilaturahim, menghormati adat dan menghargai penduduk lokal, semuanya akan baik-baik saja, sobs :D. Dan memang benar, tidak ada sanitasi memadai di kampung ini, semuanya tentang sungai .. hehehe. Untuk pengunjung yang ingin bersih-bersih, ada semacam jamban yang bisa digunakan untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.

Menjelang gelap, sebagian penduduk lokal yang berkegiatan diladang bukit (Huma, dalam bahasa sunda) kembali menuju kampung dengan ikatan-ikatan kayu bakar digendongan mereka. Jika bayangan yang menggendong kayu bakar itu adalah laki-laki, salah, mereka adalah penduduk perempuan yang kebanyakan masih sangat muda-muda. (Kalau guemah kayaknya gak kuat dah bawa gendongan kayu bakar segitu :P). Karena bagi mereka tidak ada batasan umur untuk bekerja, jika seorang anak sudah dirasa mampu untuk melakukan pekerjaan dewasa, ya sudah. Seperti diperjalanan sebelumnya, kami bertemu anak kecil usia sekitar sembilan atau sepuluh tahun (yang akhirnya Tias kepincut karena anaknya ganteng banget…hahhaha) menjadi jasa potter membawa beberapa tas besar pengunjung dengan pikulan. Buat gue pemandangan seperti itu, extraordinary!.

Ketika gelap datang, suasana kampung benar-benar gelap, sumber penerangan hanya berasal dari lampu templok kecil dengan bahan bakar minyak kelapa. Itu saja, hehehhe. Jadi jika ada pengunjung hendak keluar rumah bisa menggunakan senter yang dibawa masing-masing. Kami sendiri lebih memilih menghabiskan malam sesuai itinerary, setelah sholat (oh iya, masyarakat baduy sebagian besar menganut kepercayaan Sunda wiwitan yang lebih mengedepankan kepercayaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur, tapi mereka menghargai dan memberikan kebebasan pada pengunjung untuk melaksanakan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Keren dan indah ya toleransi itu, sobs 😀) dan makan malam kami ngobrol-ngobrol ringan dengan tuan rumah, dan tentunya acara khusus dari panitia untuk saling berkenalan lebih dekat dengan peserta-peserta yang lain. Waktu yang tepat buat modus dan tebar pesona nih… (Masih gak nyadar umur, mas? // oh iya, Astagfirullah). Intinya acara untuk saling mengenal biar lebih akrab gitu dah. Dan benar saja, dengan obrolan lebih dekat ini, gue jadi tau kalau teman-teman perjalanan ini adalah manusia-manusia muda Indonesia yang penuh potensi dengan profesi masing-masing. Dan belakangan gue jadi minder baca tulisan-tulisan mereka yang keren-keren, hahaha. Tapi yang pasti kami mempunyai satu tujuan yang sama, menikmati alam dan budaya Indonesia untuk sejenak melepaskan pernak-pernik kehidupan dikota (Situ orang kota, mas? // orang kampung juga sih // yaudah, gitu aja // Laaahhhh….. ).

Lepas acara ngobrol-ngobrol kami dipersilahkan untuk beristirahat, gue sendiri lebih memilih sejenak ngobrol ringan didepan Hawu, tungku api tradisional, suasana yang hampir gak pernah gue temuin lagi selama ini, bareng Oky dan kang Jahadi sang pemandu baduy luar, menikmati beberapa batang rokok dan kopi. Karena kami sama-sama bisa bebahasa sunda, alhasil terciptalah obrolan malam bernuansa sunda. Hahahha. Satu obrolan yang berhasil bikin ngakak, si kang Jahadi ini paling gak bisa tidur dikereta, ketika gue tanya kenapa, dengan polos jawabannya dalam bahasa sunda “Takut tiba-tiba kepala hilang” Laaahhhhhh, ….. Bahahahaha. Aya-aya wae si akang mah lah. Sebenernya ada yang kelupaan gue tanya selama trip ini, kenapa sepanjang perjalanan gue gak nemuin satupun tempat pemakaman seperti umumnya. Dan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang kelupaan itu, gue andelin kang google aja ya, menurut yang gue baca di beberapa blog, orang baduy dimakamkan dengan tanah diratakan, tidak menyembul seperti makam pada umumnya, hanya di tanami pohon hanjuang diatas makamnya. Dan setelah beberapa hari yang ditentukan, makam tersebut boleh digunakan lagi untuk keperluan lainnya. (Tolong koreksi bila gue salah informasi :D).

Hari besoknya. Bangun pagi dengan udara yang tidak terlalu dingin, menikmati suasana pagi jika memungkinkan adalah salah satu menu yang tidak boleh gue lewatkan jika berada ditempat baru, begitupun di tempat ini, suasana pagi disungai dipenuhi kegiatan penduduk lokal untuk mencuci dan kegiatan lain, yang berladang segera menuju ke ladang-ladang dengan langkah-langkah gesit mereka menaiki tanjakan. Suara air sungai dan udara dingin itu bagai stimulan yang cukup efektif mendinginkan kepala..hahaha. setelah sedikit terang, beberapa penduduk lokal mendatangi pengunjung untuk menawarkan cinderamata dan kerajinan tangan mereka, mulai dari gelang-gelang anyaman sampai kain-kain tenun tradisional yang dalam perjalanan kemarin gue lihat pembuatannya.

Setelah selesai ritual pagi masing-masing, packing dan sarapan, sekitar jam delapan, tiba waktunya untuk berpamitan dan kembali pulang, karena sesuai peraturan, tamu yang berkunjung tidak diperkenankan lebih dari satu malam … hehehe. Dan lalu gue pun beranjak padahal masih betah, sambil dadah-dadah ala miss unipers… (ih agak cuco ya…ppfffttttt).

Jalur pulang kami berbeda dengan jalur keberangkatan, karena kami akan melalui jalur jembatan akar… yahaayyyyyy. Berbeda pula dengan cuaca, di perjalanan pulang ini matahari yang seksi dan nakal terus meningkahi. Tapi jaket yang kemarin basah jadi kering di perjalan pulang ini. Hahahhaha. Rute perjalananpun gue rasa tidak terlalu seperti kemarin, cukup banyak jalan datar, hanya sebelum jembatan akar saja yang cukup curam, hehhhe. Dan sangat ajaib, ada rombongan pembawa kayu gelondong dipikul, dan melewati jalur itu dengan cuek aja, dan gue pun melongo. Pemandangan di rute inipun tidak kalah dengan rute kemarin. Tiba di jembatan akar kamipun disuguhi pemandangan sungai yang aduhai. Jujur aja gue takut ketinggian, dan ketika berada di atas jembatan ini gue selalu berpegangan erat pada hatimu, eh pada akar-akarnya maksud gue. (aduuuhhh… masih usaha, mas? // yanamanya juga usaha..hahaha // serahlu dah) Photo-photo dan sejenak menikmati keindahan dari atas jembatan akar ini sepertinya wajib, biar afdol. Hehehe.

pulang 2
Mari pulang, marilah pulang… Foto: Oky ©kilikili-adventure
pulang 2
Ketika Agus “Smith” bernyanyi, semua berharap perjalanan segera usai.. Bahahaha. Foto: OmarSu
jemur padi
Jemur padi. Foto: OmarSu
manusia2kuat
Manusia-manusia kuat. Foto: OmarSu
padu amprok
Kampung baru yang lagi dibangun. Foto: OmarSu
kang yasrip
Kang Yasrip, pemandu lokal sekaligus tuan rumah dari Baduy dalam. Foto: OmarSu
jembatan akar 2
Inilah, the famous one and only destination, Jembatan akar. Foto: OmarSu
pulang 1
kumpulll… kumpulll… Foto: Oky ©kilikili-adventure
baduy Dalam vs baduy luar
Baduy Dalam (Kang Yasrip) & Baduy Luar (Kang Jahadi). Foto: OmarSu

Tidak begitu lama setelah lokasi jembatan akar, kamipun sampai di tempat ojek-ojek yang siap mengantar ke tempat dimana angkot yang akan membawa kami kembali ke stasiun Rangkas menunggu. Diatas ojek gue berharap bisa sedikit meredam sedikit pegel-pegel dikaki, tapi ternyataaaa… jrenng jreeeeng.. (Kamera zoom in ala sinetron) gue pun harus menikmati jalanan nanjak dan turun yang cukup banyak dan semuanya batu-batu kasar, pake drama ban motornya bocor segala..Hahahha. Meskipun waktu tempuh hampir sama dengan perjalanan berangkat, tapi gue ngerasa cepet aja di perjalanan pulang ini, tak terasa sudah sampai di tempat angkot menunggu kami. Sejenak istirahat dan bersih-bersih, lalu siap kembali menikmati dua jam menuju stasiun kereta Rangkas :D.

Dan tujuan akhir stasiun Tanah abang pun menjadi titik terakhir perjalanan kami dua hari ini. Sekitar jam tujuh malam akhirnya perjalanan berakhir dan kami harus kembali ke habitat masing-masing ( oohhh iya mas lu kan di…. // iyaaa.. iyaaa… bonbin). Open trip pertama gue yang sangat memuaskan, tujuan sesuai ekspektasi dan menyenangkan bisa bertemu manusia-manusia muda yang mencintai Indonesia.

Terimakasih Oky dari www.kilikili-adventure.com sudah jadi pemandu yang baik hati dan tidak sombong karena rajin minum kopi, mas Agus… eh Smith yang kocak, Nunu, Qorry dan The Powerpuff girls Tias, Nanda dan Diah, kalian perempuan-perempuan tangguh!. Senang bisa melakukan trip dan berkenalan dengan kalian, semoga bisa bertemu kembali dilain kesempatan ya, guys. Terimakasih juga untuk Kang Yasrip dan Kang Jahadi yang sudah jadi pemandu lokal yang baik hati juga.

Dan dengan berakhirnya lagu dari album Frank Sinatra (Bentar, mas, yakin Sinatra? bukan lagu bunda Rita // Sssstttt, udah mau penutupan nih masih aja becanda), gue mengakhiri cerita perjalanan dua hari menuju “Eksotisme hening” ini. Sampai ketemu dicerita yang lainnya. See youuu….

Play your life and capture!

2015 Golden Globes Award Winners List.

Here is the list of 2015 Golden Globes Award Winners:

MOVIES

Best Motion Picture, Drama

  • WINNER: Boyhood
  • Foxcatcher
  • The Imitation Game
  • Selma
  • The Theory of Everything

Best Actor, Drama

  • Steve Carell, Foxcatcher
  • Benedict Cumberbatch, The Imitation Game
  • Jake Gyllenhaal, Nightcrawler
  • David Oyelowo, Selma
  • WINNER: Eddie Redmayne, The Theory of Everything

Best Actress, Drama

  • Jennifer Aniston, Cake
  • Felicity Jones, The Theory of Everything
  • WINNER: Julianne Moore, Still Alice
  • Rosamund Pike, Gone Girl
  • Reese Witherspoon, Wild

Best Motion Picture, Comedy or Musical

  • Birdman
  • WINNER: The Grand Budapest Hotel
  • Into the Woods
  • Pride
  • St. Vincent

Best Actor, Comedy or Musical

  • Ralph Fiennes, The Grand Budapest Hotel
  • WINNER: Michael Keaton, Birdman
  • Bill Murray, St. Vincent
  • Joaquin Phoenix, Inherent Vice
  • Christoph Waltz, Big Eyes

Best Actress, Comedy or Musical

  • WINNER: Amy Adams, Big Eyes
  • Emily Blunt, Into the Woods
  • Helen Mirren, The Hundred-Foot Journey
  • Julianne Moore, Maps to the Stars
  • Quvenzhané Wallis, Annie

Best Supporting Performance, Actor

  • Robert Duvall, The Judge
  • Ethan Hawke, Boyhood
  • Edward Norton, Birdman
  • Mark Ruffalo, Foxcatcher
  • WINNER: J.K. Simmons, Whiplash

Best Supporting Performance, Actress

  • WINNER: Patricia Arquette, Boyhood
  • Jessica Chastain, A Most Violent Year
  • Keira Knightley, The Imitation Game
  • Emma Stone, Birdman
  • Meryl Streep, Into the Woods

Best Animated Feature Film

  • Big Hero 6
  • The Book of Life
  • The Boxtrolls
  • WINNER: How to Train Your Dragon 2
  • The LEGO Movie

Best Foreign Language Film

  • Force Majeure Turist (Sweden)
  • Gett: The Trial of Viviane (Israel)
  • Ida (Poland/Denmark)
  • WINNER: Leviathan (Russia)
  • Tangerines Mandariinid (Estonia)

Best Director

  • Wes Anderson, The Grand Budapest Hotel
  • Ava Duvernay, Selma
  • David Fincher, Gone Girl
  • Alejandro González Iñárritu, Birdman
  • WINNER: Richard Linklater, Boyhood

Best Screenplay

  • Wes Anderson, The Grand Budapest Hotel
  • Gillian Flynn, Gone Girl
  • WINNER: Alejandro González Iñárritu, Nicolas Giacobone, Alexander Dinerlaris, Armando Bo, Birdman
  • Richard Linklater, Boyhood
  • Graham Moore, The Imitation Game

Best Original Score

  • Alexandre Desplat, The Imitation Game
  • WINNER: Jóhann Jóhannsson, The Theory of Everything
  • Trent Reznor, Atticus Ross, Gone Girl
  • Antonio Sanchez, Birdman
  • Hans Zimmer, Interstellar

Best Song

  • “Big Eyes” – Big Eyes. Music by: Lana Del Rey, Lyrics by: Lana Del Rey.
  • WINNER: “Glory” –  Selma. Music by: John Legend, Common, Lyrics by: John Legend, Common.
  • “Mercy Is” – Noah. Music by: Patti Smith, Lenny Kaye, Lyrics by: Patti Smith, Lenny Kaye.
  • “Opportunity” – Annie. Music by: Greg Kurstin, Sia Furler, Will Gluck, Lyrics by: Greg Kurstin, Sia Furler, Will Gluck.
  • “Yellow Flicker Beat” – The Hunger Games: Mockingjay – Part 1. Music by: Lorde, Lyrics by: Lorde

TV & MINI-SERIES

Best Television Series, Drama

  • WINNER: The Affair
  • Downton Abbey
  • Game of Thrones
  • The Good Wife
  • House of Cards

Best Actor, Drama Series

  • Clive Owen, The Knick
  • Liev Schreiber, Ray Donovan
  • WINNER: Kevin Spacey, House of Cards
  • James Spader, The Blacklist
  • Dominic West, The Affair

Best Actress, Drama Series

  • Claire Danes, Homeland
  • Viola Davis, How to Get Away With Murder
  • Julianna Margulies, The Good Wife
  • WINNER: Ruth Wilson, The Affair
  • Robin Wright, House of Cards

Best Television Series, Comedy or Musical

  • Girls
  • Jane the Virgin
  • Orange is the New Black
  • Silicon Valley
  • WINNER: Transparent

Best Actor, Comedy or Musical

  • Louis C.K., Louie
  • Don Cheadle, House of Lies
  • Ricky Gervais, Derek
  • William H. Macy, Shameless
  • WINNER: Jeffrey Tambor, Transparent

Best Actress, Comedy or Musical

  • Lena Dunham, Girls
  • Edie Falco, Nurse Jackie
  • Julia Louis-Dreyfus, Veep
  • WINNER: Gina Rodriguez, Jane the Virgin
  • Taylor Schilling, Orange is the New Black

Best Mini-Series or Motion Picture

  • WINNER: Fargo
  • The Missing
  • The Normal Heart
  • Olive Kitteridge
  • True Detective

Best Actor, Mini-Series or Motion Picture

  • Martin Freeman, Fargo
  • Woody Harrelson, True Detective
  • Matthew McConaughey, True Detective
  • Mark Ruffalo, The Normal Heart
  • WINNER: Billy Bob Thornton, Fargo

Best Actress, Mini-Series or Motion Picture

  • WINNER: Maggie Gyllenhaal, The Honorable Woman
  • Jessica Lange, American Horror Story: Freak Show
  • Frances McDormand, Olive Kitteridge
  • Frances O’Connor, The Missing
  • Allison Tolman, Fargo

Best Supporting Actress

  • Uzo Aduba, Orange is the New Black
  • Kathy Bates, American Horror Story: Freak Show
  • WINNER: Joanne Froggatt, Downton Abbey
  • Allison Janney, Mom
  • Michelle Monaghan, True Detective

Best Supporting Actor

  • WINNER: Matt Bomer, The Normal Heart
  • Alan Cumming, The Good Wife
  • Colin Hanks, Fargo
  • Billy Murray, Olive Kitteridge
  • Jon Voight, Ray Donovan

Source: http://screenrant.com/golden-globes-2015-winners-list/

Resolusi VS Solusi : Renungan mini antara 2014 – 2015.

Wohohoho, sudah 31 Desember 2014… Yah ini hari terakhir di 2014. Hitungan jam kedepan akan berubah 2015. Satu angka bertambah di belakang 201. Dan kita akan identikan dengan segala perubahan, harapan-harapan baru, impian-impian baru. Salah? Ya nggaklah, justru kalau gak punya harapan untuk perubahan perlu dipertanyakan, ngapain hidup?

Gue juga sama lah, tiap tahun kayaknya banyak gue bilang ke diri sendiri tentang resolusi-resolusi, apa saja yang harus gue raih dan apa yang harus gue wujudin. Beberapa diantaranya sudah berjalan diwujudin, dan sebagian besarnya belum. Ada yang salah dengan resolusi gue? Bisa jadi!.

Setelah mikir beberapa tahun…. nggak deng kelamaan, beberapa saat doang tepatnya, sepertinya gue harus menyingkirkan satu suku kata dari RESOLUSI, gue ganti saja jadi SOLUSI. Ya “Re” setahu gue definisinya adalah pengulangan, mengulangi, kembali, bener gak sih? (koreksi gue kalau bener…hehehhe). Jadi selama ini gue ngucapin harapan yang hanya di ulang-ulang tiap tahun, kembali diulang tahun berikutnya, dan terus dan terus…. Ya pantes saja banyak yang gak kewujud kali ya, orang gue cuma mengulang-ulang RESOLUSI tanpa inget SOLUSI.

Pengen belajar nulis lagi, tapi gue gak lakuin solusi nulisnya. Pengen punya penghasilan tambahan, tapi gue nya males. Pengen punya mini cooper, tapi tidur gue kurang nyenyak..hahahha ( baru ngimpi maksudnya 😛 ). Pengen liburan ke eropa, tapi gak nabung-nabung. Pengen kawin… eh nikah, tapi nyari jodohnya males-malesan atau jodohnya males dicariin gue? (Yang ini asli curhat!). Jadi ya jelas gw masih terbelenggu (Etttt dah, tong) di kata resolusi. Sudah waktunya gue mikir SOLUSI buat semua itu.

Dihari terakhir tahun 2014 ini, ada baiknya kita…eh gue maksudnya, membuat rencana untuk solusi dari rencana-rencana gue sebelumnya yang belum kewujud. Dan tetep ngingetin diri sendiri untuk tidak membuat resolusi, tapi mencari SOLUSI! Hehehhe.

Sudahkah anda menemukan solusi anda di 2015? Yuk neng-neng yang masih single kita cari solusi (Teteuupp usaha…)

Selamat menempuh “SOLUSI” Tahun baru !!!!

Wayang Golek: Learn the meaning of life from wooden puppets.

Wayang golek is one of many puppets show in Indonesian cultures, known as traditional puppets from west java, wayang golek being one identity for sundanese people. Several Jokes, life philosophy and the characters in this puppets show given much influence for sundanese. That is why Wayang Golek or another Wayang such as Wayang Kulit, anciently using for proselytism purpose.

Little is known for certain about the history of wayang golek, but scholars have speculated that it most likely originated in China and arrived in Java sometime in the 17th century. Some of the oldest traditions of wayang golek are from the north coast of Java in what is called the pasisir region. This is home to some of the oldest Muslim kingdoms, who used the medium to proselytize Muslim values.

The word wayang refers to both the puppets and the theatre. Dating back the early 16th century, traditional Javanese tales and plays from the Ramayana and Mahabharata were performed. This variety of plays combines Hindu stories with Buddhist and Muslim ideas and Javanese folklore. Usually, the stories are divided into different episodes. They illustrate the fight of good against evil through conflict, culminating in the triumph of the good forces and the destruction of evil. The characters are always arranged on the stage in the same way – good characters to the right of the puppeteer, and bad characters to the left.

The Puppeteer is called “Dalang”, (My Father also one of those puppeteers 😀 , Love you, abah! ) who operated the wayang from below through the rod that connected to the hands and a central control rod that runs through the body to the head. The simple construction of the puppets belies their versatility, expressiveness and aptitude for imitating human motion or dance. The dalang also accompanied by a gamelan (percussion) orchestra and singers (Sinden).

Wayang golek made of albasiah or lame wood. Build with sculpting and carved this, so as to resemble any desired shape. Each puppet has a carved and painted head with an elaborate headdress and a long neck that can swivel. Headdress, costumes and colours vary for each puppet and can also indicate to the audience what kind of character it represents. White means purity, virtue and moral integrity and is often the face colour of princes. Red means aggressiveness and anger. Blue and green face colours mean cowardliness and hypocrisy. Each characters represent how human doing life in good, in bad also, and how the consequences or the impact for another. Besides watching the art show, we also can taking a life lessons from its puppets show.

Adjusted to the time by now, the story of wayang golek show is not only about proselytize, it could be a hot politics issue, social issue, or another funny thing that can tell and entertaining. And many wayang golek are now made for sale to tourists In west Java.

Source : Wikipedia, www.objectlessons.org,

Pictures: www.sundajeungsunda.blogspot.com , www.gojabar.com,

Poster Film: Sebuah Trailer Statis.

Gue masih inget salah satu poster film yang ada disebuah majalah atau apa gue lupa, yang berhasil membangkitkan imajinasi dan membuat gue ingin sekali menonton film itu. Waktu itu usia gue masih sekitar 9 atau 10 tahun mungkin, dan film tersebut rilis tahun 1982, waktu gue baru usia 1 tahun (Ketahuan dah tuanya 😛 ), tapi karena keterbatasan media di tahun-tahun tersebut gue belum bisa menontonnya. Sampai di beberapa tahun kemudian dirumah seorang teman yang punya pemutar video VCR, gue berhasil menonton film tersebut karena ayahnya punya film tersebut. Dan bukan main senangnya akhirnya gue bisa melihat apa yang seperti gue lihat di poster waktu itu, siluet anak bersepeda melintasi bulan.

Yap, film itu adalah E.T (Extra Terrestrial) buah karya Steven Spielberg. Poster film E.T telah berhasil memupuk rasa penasaran gue sampai beberapa tahun. Pengalaman gue ini cukup membuktikan kekuatan sebuah poster dalam membentuk persepsi, imajinasi, dan menyugesti seseorang mengenai isi poster tersebut.

Definisi poster menurut mas wikipedia adalah sebuah karya seni grafis yang memuat komposisi gambar atau huruf atau kombinasi keduanya di atas media yang ukurannya relatif besar. Adapun tujuan dari sebuah poster sangat beragam, bisa untuk media propaganda, kampanye, mempromosikan film, menghimbau masyarakat atau tujuan lainnya. Jadi dalam kasus yang gue alami adalah jenis Poster Film :D.

Sebagai salah satu materi promosi dari sebuah produksi film, poster sudah selayaknya mendapat porsi perhatian yang besar, karena selain trailer yang dirilis untuk memperlihatkan sedikit isi film, poster pun berperan sama, hanya dalam bentuk statis dan sekali tebas. Melalui trailer, orang perlu beberapa menit untuk mengetahui sekilas isi film tersebut, tapi poster umumnya hanya akan dilihat sekilas saja jika ditempatkan di tempat umum. Lain cerita kalau dilihatnya dari sebuah web pengulas film ya, kita bisa memelototi poster tersebut sampai mata pedas. Intinya trailer dan poster sama-sama mempunyai peranan yang penting dalam mempromosikan sebuah film.

Mungkin kita pernah dengar pendapat seseorang tentang sebuah film horror nasional, “ Ah, dari posternya saja sudah kelihatan filmnya jelek, isinya paling banyak esek-esek”, dan orang itu tidak salah karena yang dia tangkap dari posternya mungkin memang seperti itu. Bisa saja persepsi orang itu akan berubah ketika melihat poster film horor yang tidak menonjolkan hal negatif yang ada di film tersebut (Baca: esek-esek), kalaupun orang itu tidak mau menontonnya, setidaknya tidak akan keluar kata-kata “paling isinya esek-esek” yang biasanya di sama ratakan untuk film-film bergenre serupa. Kita tentu masih ingat film “Jelangkung” atau “Tusuk jelangkung” kan? Mereka memasang poster yang sesuai porsinya, kedua film itu laris dan tidak mendapat label negatif :). Bahkan film-film kelas dunia pun tidak sedikit yang kurang mampu menyampaikan isi film mereka kedalam “Trailer Statis” ini. Jadi “Kreatif” adalah satu kata yang diperlukan dalam membuat semua jenis poster.

Salah satu poster film nasional era 2000-an yang menjadi favorit gue adalah poster film Ada Apa Dengan Cinta, dan gue rasa banyak yang setuju, hehehhe. Komposisi garis warna-warna ceria sangat mewakili selera remaja, kalau saja garis warna-warni itu dihilangkan, gue rasa poster itu akan berasa biasa dan tidak akan melekat diingatan :D. Sudah jelas poster ini buah dari pendalaman dan kreatifitas. Meskipun kadang desainer harus menyerah dengan selera pihak-pihak tertentu yang seleranya dibawah harapan desainer. Begitu menurut yang pernah gue baca :D.

Selamat melihat-lihat trailer film baik dinamis ataupun statis 🙂