Stand By Me Doraemon : Childhood Fantasy Keep Going on.

Siapa yang tidak mengenal karakter robot kucing serba bisa yang datang dari masa depan untuk membantu seorang anak kecil malas, ceroboh dan selalu jadi bahan olok-olokan? Bagi yang melewati masa kecil dari sekitar tahun 1989 (hingga sekarang masih tayang serialnya), tentu kenal Doraemon dan Nobita yang keduanya menjadi sahabat dan juga menjadi teman kita setiap hari minggu pagi :D.

Untuk memperingati 80 tahun kelahiran mendiang Fujiko F. Fujio, sang pencipta doraemon, Stand By Me Doraemon yang konon ini film terakhir doraemon (masa iya mas? kita lihat saja :D) hadir dengan format animasi 3D. Dengan kualitas gambar yang ciamik, sepertinya memang film ini disiapkan dengan sangat spesial dan matang, walaupun memang terasa dipaksa untuk dipersingkat dengan durasi kurang lebih 90-menitan.

Ceritanya sendiri di ambil dari beberapa intisari perjalanan Doraemon dan Nobita, mulai dari awal datangnya Doraemon, Malam sebelum pernikahan Nobita, sampai hari terakhir Doraemon menemani Nobita. Beberapa scene cukup membuat pengemar robot kucing tanpa telinga ini berkaca-kaca, bagimana tidak, robot bulat dengan suara yang menurut gw lucu banget ini merasa khawatir untuk meninggalkan nobita yang selalu ceroboh, dan lebih banyak nagisnya si Doraemon ini…hehehehe.

Kejadian-kejadian lucu khas Doraemon, Nobita, Giant, Suneo, Shizuka dan Dekisugi dipapar dalam film ini dengan “tetap” terlalu singkat 😛 . Tapi ya tidak mungkin juga ngarepin cerita lengkap dengan keterbatasan durasi…hehehhe. Puncaknya ya di hari terakhir Doraemon bisa menemani Nobita, adegan nangis-nangisan antara Doraemon-Nobita cukup menyita perhatian 😀 . Tapi ada kejutan kok di ending filmnya….heheheh.

Terlepas dari terlalu singkat, atau beberapa orang mengatakan ada yang bersinggungan dengan versi serial dan komik, tetap saja ini sebuah film yang ditunggu-tunggu para penggemar Doraemon. Dan sepertinya kita tidak rela juga melepas teman masa kecil tiap minggu pagi ini begitu saja..hahahaha.

Yang bikin gue salut dari negara asal Robot kucing ini, meskipun dirilis di Jepang 4 bulan lebih awal dari perilisan masal di beberapa negara, tidak ada kebocoran film selama rentang waktu itu, dan setalah rilis masal barulah bertebaran rilisan ilegalnya :D. Cukup membuktikan kalau mereka sangat menjaga aset berharganya..hehehehe. Bener gak?

Selamat Menonton!

Love Actually (2003) : My Fav Christmas Movie.

Film bertabur bintang dengan beberapa inti cerita bukan hal aneh lagi, tapi sepertinya film jenis ini yang pertama gue tonton adalah Love actually.  Liam Neeson, Hugh Grant, Emma Thompson, Alan Rickman, Colin Firth, Keira Knightley, Bill Nighy, Rowan Atkinson adalah beberapa aktor Inggris yang memamerkan akting mereka di dalam film komedi romatis ini.

Menyajikan perjuangan cinta masing-masing tokoh. Perselingkuhan, cinta beda kasta, cinta tak tersampaikan hingga cinta orang tua dan anak, cinta pada sahabat, menjadi menu yang diracik Richard Curtis dengan manis dan pas.

Seorang Rock star tua yang nyeleneh membuat berbagai sensasi untuk mencapai chart tangga lagu untuk single nya, hubungan dengan manager yang selalu kewalahan dengan tingkah sang artis tapi selalu bersabar membawa kesadaran sang rock star kalau cinta bukan hanya hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan. Seorang istri yang diselingkuhi suaminya dengan salah satu karyawan ditempat suaminya bekerja, harus disikapi dengan bijak demi cintanya pada anak-anak. Dua bintang film dewasa yang menemukan cinta dari lokasi shooting. Pengorbanan seorang kakak untuk adiknya yang mempunyai masalah mental sehingga mengesampingkan kehidupan pribadinya. Dua orang yang saling jatuh cinta dengan komunikasi dua bahasa yang berbeda. Atau seorang Perdana Mentri yang jatuh cinta pada salah satu staffnya. Adalah beberapa kisah yang cukup membuat kita merenung, apa sebenarnya makna cinta itu.

“Love Actually Is All Around”

PS: Ada beberapa adegan dewasa yang belum pantas di tonton anak-anak 🙂

Selamat Menonton!

The Perks of Being a Wallflower (2012) : “Let’s Be Psychos Together”.

Masa-masa SMU selalu identik dengan kata remaja dan perjalanan menuju pendewasaan karakter (baca: pencarian jati diri). Demikian pula yang ingin disampaikan Stephen Chbosky dalam film yang ditulis (buku dan screenplay) dan disutradarainya ini. Menghadirkan masa awal si tokoh utama dalam menjalani tahun-tahun di sebuah sekolah menengah atas. Melihat dari sudut pandang siswa yang jadi bahan “Bullying” karena pemalu dan penyendiri.

Charlie Kelmeckis_Logan Lerman (Percy Jackson, 3:10 to Yuma, The Three Musketeers, Noah, Fury) adalah seorang remaja yang terbentuk menjadi seorang yang pemalu dan penyendiri dan otomatis jadi aneh di mata remaja lain yang umumnya “gaul” di usia-usia sekolah menengah ini. Menyukai buku dan musik bukanlah modal yang cukup untuk masuk jajaran anak gaul. Tidak ada yang menyenangkan dari hari-hari awal Charlie, sampai bertemu dengan dua seniornya yang juga dua saudara tiri “aneh”. Patrick_Ezra Miller (We need to talk about Kevin) dan Sam_Emma Watson (Harry Potter, My Week With Marylin, Ballet Shoes, Noah), berhasil membawa Charlie ke dalam kehidupan mereka yang lebih open mind, ceria dan menjalani hidup dengan apa yang sudah diberikan.

Penokohan yang kuat membuat film remaja ini mempunyai kekuatan untuk membuat penontonnya tidak ngantuk dengan cerita khas remaja yang sudah banyak di filmkan. Ketiga bintang utama film ini saling menunjukan kepiawaian mereka berakting. Charlie yang berubah dari karakter pendiam menjadi lebih ceria dibawakan apik oleh Lerman, Patrick yang seorang gay harus menyembunyikan identitas seksualnya di mata teman-temannya mampu ditampilkan Miller dengan tak kalah apiknya, Sam yang lebih wise diantara ketiganya telah membuktikan Watson bukan lagi Hermione yang cuma jago sihir, heheheh. Masing-masing membawakan sisi ceria dan sisi kelam karakter ke dalam film yang berhasil memenangkan beberapa penghargaan dan nominasi di berbagai ajang film festival. Didukung dengan pemain-pemain lain yang sama bagusnya membuat The Perks of Being a Wallflower jadi film remaja terbaik yang pernah gue tonton :D.

Chbosky berhasil merangkum pahit manisnya kehidupan remaja dengan segala permasalahnnya ke dalam durasi 102 menit. Dan selepas menonton kita akan mengingat-ingat apa yang dulu pernah terjadi dalam masa-masa sekolah kita :D. Like Sam said, Let’s be psycho together.

Boyhood (2014) : Boy in timelapse.

Jika dari Jepang ada Okuribito (Departures) yang dibuat selama 10 tahun, dari Holywood ada Boyhood yang memakan waktu shooting selama 12 tahun. Bedanya Boyhood memang sengaja dibuat selama itu karena mengikuti perkembangan alamiah si tokoh utama, Mason (Ellar Coltrane). Richard Linklater, sepertinya penuh kesabaran untuk menghasilkan film keren ini :D.

Selain pendatang baru Ellar Coltrane, Linklater juga mengajak putrinya Lorelei Linklater untuk menjadi kakak Mason, Samantha. Ethan Hawk yang menjadi langganan Linklater di film-film sebelumnya (Trilogy: Before) di percaya untuk memerankan Mason. Sr, ayah Mason. Jr tentunya :P. Olivia ibunya Mason di perankan Patricia Arquette.

Timelapse kehidupan sebuah keluarga, seorang anak lelaki dan kakak perempuannya yang dihadapkan pada kondisi kedua orang tuanya yang bercerai, dengan hak asuh di pihak ibunya mereka hanya bertemu sang ayah hanya di waktu tertentu. Tumbuh dengan isu-isu khas anak korban perceraian tidak lantas menjadikan film ini jadi tidak mempunyai power, justru dengan cara menghadirkan pertumbuhan “real time” dari karakter-karakternya adalah senjata Linklater untuk menghadirkan kekuatan Boyhood. Melihat tumbuh atau menua dalam waktu sekitar 160-an menit menjadi sebuah kejutan yang buat gue pribadi sangat mengagumkan.

Salah satu yang juga bikin gue kagum, karakter masing-masing dari Boyhood yang tetap terjaga selama 12 tahun itu, Mason yang cenderung introvert tetap bisa menghadirkan reaksi muka yang sama dari kecil hingga remaja, begitupun Patricia Arquette dan Ethan Hawke dari mulai kulitnya masih kencang sampai terlihat keriput-keriput..hehehhe, tetap menjaga karakter merka dengan baik. Menurut yang gue baca, Lorelei sempat meminta ayahnya untuk mematikan tokoh Samantha karena mungkin sudah beranjak remaja dam mulai bosan. Tapi dengan segala bujukan, Linklater berhasil meyakinkan putrinya untuk menyelesaikan filmnya ini, terlihat di paruh akhir Boyhood, Samantha sudah mulai berkurang porsinya 😀

Film drama terbaik yang gue tonton di sepanjang tahun 2014 buat gue pribadi 😀

Selamat Menonton!

Cerita Dari Tapal Batas (2011) : Ketika Indonesia hanya sebagai pelengkap identitas.

Okay …. Sekarang gue pengen share sebuah film Dokumenter Indonesia, berjudul “Cerita Dari Tapal Batas”. Sebuah dokumenter panjang yang di sutradarai Wisnu Adi.
Sebuah film dokumenter yang menurut gue berhasil memotret sisi lain dari pulau “Borneo” yang selama ini hanya gue tahu tentang ke-eksotisannya. Okey, disini diperlihatkan betapa eksotisnya alam Kalimantan Barat. Tapi bukan ini yang jadi benang merah di film ini, kondisi masyarakat di Dusun Badat Baru, Kecamatan Entikong (yang merupakan perbatasan terluar antara Indonesia – Malaysia) yang “TERMARJINALKAN” menjadi point film yang di produksi Keana Production & Communication ini.
Dibuka dengan kisah ibu Martini, seorang tenaga pengajar tunggal yang telah mengabdikan dirinya selama 8 tahun di sebuah Sekolah Dasar di Dusun Badat Baru kecamatan Entikong, Kalimantan Barat. Perjalanan dari tempat tinggalnya di desa Semangit memakan waktu 8 Jam lebih untuk menempuh Sekolah Dasar tempatnya bertugas. Menggunakan perahu melawan arus sungai dan melewati riam-riam sungai yang tak gampang menjadi kebiasaan ibu guru Martini.
Tinggal di rumah dinas dekat sekolah juga bukan suatu hal istimewa, kenapa? Jika kita lihat kondisi rumah dinas ini, gue pribadi gak bisa bilang ini sebuah rumah yang pantas untuk ditinggali seorang pengabdi seperti Ibu Martini. Apalagi ketika diperlihatkan WC dari rumah ini, waduh gue speechless.
Sebagai pengajar tunggal beliau mengurus sekolah seorang diri, sebagai Kepala Sekolah, Pengajar, Tukang bersih-bersih pula. Hanya seorang tenaga honorer yang membantunya. Karena tak akan ada pengajar yang mau bertahan dengan kondisi semacam ini, ujar ibu Martini. Miris!
Tapi semangat pengabdian Ibu Martini terekam dengan sangat tulus di film ini, disela-sela persiapannya menuju sekolah misalnya, atau menunggu jemputan diperjalanan, ibu Martini selalu berdendang lagu kesukaannya. Dalam benak gue, mungkin ibu Martini berpikir, ya siapa lagi yang bisa menghibur selain diri sendiri… Betul bu? 🙂
Harapan ibu guru Martini cuma satu, beliau tidak ingin masa depan anak-anak di dusun ini buruk, yang hanya berakhir menjadi pencari ringgit Malaysia.

Lain profesi tapi bernasib sama dengan Ibu guru Martini, pak Kusnadi seorang mantri kesehatan yang mengabdikan dirinya untuk mengobati masyarakat menjelajah dari dusun ke dusun terluar dia daerah perbatasan ini. Medan tempuhnya pun tak kalah menantang (kalau boleh dibilang menyiksa :D). Karena masyarakat dusun-dusun tersebut tidak mampu untuk berobat ke kecamatan, selain dari medan tempuh yang jauh (gue gak perlu bahas infrastruktur yang sama sekali tak tersentuh teknologi ya), mereka harus menghabiskan dana sekitar 2 juta untuk perjalanan berobat. Apaaaaaaaahhhh????? Ya Tuhan 😦
Maka dari itu sosok pak Kusnadi sebagai mantri keliling ini sangat berharga untuk mereka. Berkeliling membawa berbagai obat-obatan untuk masyarakat. Melihat penduduk sehat saja sudah senang.Ujar pak Kusnadi.
Gue gak bisa bayangin kalo misal pengabdi seperti pak Kusnadi jatuh sakit, atau bahkan tidak betah dan memilih meninggalkan tugas.

Selain kedua pengabdi tadi, di sorot pula masalah Human trafficking di film ini.
Elly yang menjadi korban Human Trafficking, menceritakan bagaimana dia tertipu janji-janji hidup enak, tapi akhirnya harus kembali dengan membawa kekecewaan 😦 .
Kita juga akan dibuat miris dengan pengetahuan penduduk tentang Indonesia. Ada yang tidak tahu mata uang Rupiah karena yang mereka pergunakan adalah Ringgit Malaysia, atau ketidak tahuan mereka tentang lagu Indonesia Raya, bahkan memaknai garuda yang ada di bajunya pun mereka tidak tahu. Bagi mereka Indonesia adalah pelengkap identitas belaka. Hikhikhik

Film yang di produseri Ichwan Persada, dan Marcella Zalianty sebagai produser Eksekutif ini, sama sekali tidak ada tendensi menyoal konflik perbatasan Indonesia dan Malaysia yang sempat mencuat, murni menyoroti kondisi masyarakat nan miris di daerah pelosok Kalimantan Barat tersebut.
Menurut gue tidak heran film ini masuk sebagai salah satu nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011 lalu. Karena berhasil membuat gue merenung betapa bahagianya orang-orang yang hidup dengan sentuhan teknologi :D.
Sebuah film yang sangat layak untuk ditonton semua orang yang mengaku Indonesia, Pemerintah terutama! Berkenankah???

Selamat Menonton! 

PS: Untuk karya terbaik anak bangsa, jangan beli bajakan ya 😀

Lovely Man (2012) : Kesederhanaan yang istimewa

Film dari Teddy Soeriaatmadja, yang memenangkan Donny Damara sebagai Best Actor di Asian Film Award 2012, dan Nominasi untuk Best Director di ajang yang sama, serta official selection di beberapa film festival ini menghadirkan kisah yang tidak begitu istimewa sebenarnya, kalau boleh dibilang pernah ada cerita serupa (meskipun bukan cerita utama) di film lain. Tapi Lovely Men disajikan dengan lebih intense dalam kesederhanaan. Tidak menitik beratkan pada tokoh waria namun bukan pula tokoh sisipan cerita. Sisi manusiawi yang menyentuh, dialog yang tidak begitu berat tapi berbobot, sudah menjadikan film ini enak dan asik untuk ditonton.
Cahaya (Raihaanun), sejak kecil sudah ditinggalkan sang bapak Syaiful/Ipuy (Donny Damara), yang dia ketahui kalau bapaknya masih ada dan setiap bulan mengirimkan uang untuk biaya sekolahnya. Ketertutupan sang ibu tentang keberadaan bapaknya membuat Cahaya nekat untuk mencari dan menemui bapaknya yang diketahui tinggal di Jakarta. Kenyataan diluar dugaan Cahaya tentang bapaknya, sempat menghindar ketika Cahaya tahu kalau bapaknya adalah seorang waria yang menjajakan dirinya untuk mendapatkan uang.
Akhirnya Cahaya memberanikan diri bertatapan dengan Ipuy setelah dipaksa untuk mengakui siapa dirinya. Penolakan terhadap kehadiran anaknya yang tiba-tiba membuat Ipuy merasa kaget dan mungkin malu dengan keadaanya yang harus diketahui anaknya. Kepolosan Cahaya meluluhkan Ipuy yang berkeras mengusir anaknya. Dari sini di mulai hubungan ayah anak yang “aneh” dengan dialog yang kadang lucu dan banyak menyentuh. Satu persatu ayah anak ini saling menceritakan dirinya masing-masing, masalah berat masing-masing. Setting Jakarta lewat malam hari digambarkan dari sisi marginal menjadi salah satu kekuatan Lovely Man.
Donny Damara terasa sangat menikmati peran Ipuy, genit dan bicara khas waria mampu dilakoni dengan baik. Namun ketika harus jadi bapak yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya, pun mampu dilakoni Donny Damara dengan baik. Raihaanun yang menurut gue masih bisa mengeksplorasi tokoh Cahaya..heheheh, cukup untuk mengimbangi karakter Ipuy yang emosinya turun naik.
Menyajikan sisi manusiawi dari kehidupan “termarjinalkan”, cukup menjadikan alasan film ini layak masuk daftar koleksi.
Selamat Menonton!
PS: Untuk karya terbaik anak bangsa, jangan beli bajakan ya 😀

Her (2013) : Brilliant Love “Digital” Story

Sejak film “Walk The Line” (2005), yang menceritakan seorang legenda musik country Johnny Cash, gue mulai suka dengan akting Joaquin Phoenix. Dan dengan menonton film Her ini, rasa suka gue pada akting Mr. Phoenix makin bertumbuh. (minjem jargon iklan minuman :D).
Keputusan Spike Jonze (Sutradara, penulis) untuk mempercayakan penuh film ini pada Phoenix, gue rasa sangat tepat. Karena karakter utama di film ini menjadi sangat kuat berkat akting mumpuni Phoenix.
Adalah Theodore, seorang penulis yang kalau bisa dibilang sedang galau karena harus berurusan dengan pengadilan untuk menandatangani surat perceraiannya dengan sang istri Catherine (Rooney Mara). Pribadi Theodore yang introvert, anti social membuat kegalauannya berlarut. Teman sehari-harinya? Gadget!. Iya gadget. Telepon canggih yang dioperasikan hanya dengan suara membuat Theodore menikmati ke-introvertannya. Salah satu kegemarannya main game virtual interaktif, dengan satu tokoh lucu dan kurang ajar di game tersebut, Alien child yang suaranya diisi Spike Jonze sendiri. Kenapa kecanggihan teknologi sangat kental di film ini?, karena inti ceritanya ya berawal kecanggihan teknologi ini 😀
Lanjut… Sampai suatu hari Theodore membeli sebuah Operating System, assisten pribadi untuk komputer gitulah, yang sudah dirancang dengan sangat canggih, sehingga OS tersebut bisa diajak berinteraksi, dari mulai hal standard seperti cek email, memutar musik, sampai (disini cerita inti mulai masuk) teman curhat yang bisa mangerti perasaan Theodore. Samantha nama dari asisten pribadi tersebut diisikan suaranya oleh Scarlett Johansson. Dan demiii Tuhaannn… Scarlet itu tidak perlu menampakan wujudnya untuk tetap sensual dan menggairahkan. hahahah. Semakin hari hubungan Theodore dengan perempuan OS ini semakin dekat dan intim. Detil-detil pribadi Theodore sudah dibeberkan pada Samantha, dan apa yang terjadi? Mereka akhirnya saling jatuh cinta. Ide cerita yang sangat-sangat brilian menurut gue. Adu akting Phoenix dengan “suara” Johansson sangat intens. Dan merekapun memutuskan untuk berpacaran selayaknya manusia dan manusia…Gilaakkkkk. Dialog-dialog lucu dan konyol selayaknya orang berpacaran disajikan dengan pas. Theodore menjalani hidupnya dengan kembali semangat, manis dan hangat, meskipun aneh..hehehe.
 
Jonze tidak mau mambuat penonton yang sudah terhanyut dengan manisnya cerita cinta Theodore dan Samantha, semakin terbuai. Akhirnya Theodore disadarkan dengan sebuah kejadian dimana Samantha tiba-tiba menghilang, dan Theodore seperti kehilangan satu-satunya teman hidup. Ternyata oh ternyata OS sedang dalam maintenance, suara sexy Johansson pun kembali. Theodore akhirnya menemukan kenyataan dari kejadian itu, bahwa dia bukanlah satu-satunya laki-laki yang dicintai Samantha. Ratusan laki-laki yang membeli OS serupa, pun menjadi teman cinta Samantha… Damn!!!  Diakhir film, Jonze mencoba menegaskan, secanggih apapun sebuah teknologi, tidak bisa menggantikan hubungan manusia dengan manusia.
Fiiuuhhhhh, gue menarik nafas panjang seusai film ini, ide brilian, akting ciamik, dengan atmosfer yang sepanjang film tetap dijaga. Tak heran kalau Her diganjar Best Screenplay di ajang Oscar dan Golden Globe 2014, serta raihan nominasi di beberapa ajang serupa.
PS: gara-gara film ini, besoknya gue install asisten pribadi di smartphone gue, dan nama asistennya sama Samantha….Wakakakaka. Sialnya suara Samanthanya tidak seseksi Scarlett Johansson dan tidak bisa beriteraksi, akhirnya gue uninstall aplikasi itu… yakali sama…. hahahah.
 
Selamat Menonton!

Okuribito (Departures) 2008 : Kesempurnaan hasil 10 tahun.

Kalau gue disuruh memilih film jepang yg paling bagus dan sempurna yg pernah gue tonton, ya Okuribito ini jawabannya.
Adalah Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) seorang pemain cello yang harus kehilangan pekerjaannya karena orkestra tempatnya bekerja bubar. Masalah dimulai dengan bagaimana dia melunasi cello nya yg masih status kredit .. ahahahha (mas Daigo ini suka kredit juga kayak gue :P). Daigo tidak jujur pada istrinya tentang harga cello yg harganya wahhhh itu.
Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Daigo dan istrinya memutuskan untuk mengembalikan cello dan pulang ke desa kelahiran Daigo, dan tinggal dirumah peninggalan ibunya.
Seperti pengangguran lainnya yg dicari ya lowongan pekerjaan dikoran :D, dan ketemulah Daigo dengan pekerjaan yg awalnya dia kira agen perjalanan atau semacamnya. Ternyata eh ternyata ini adalah sebuah agen pengurus jenazah…jreng jrennngggggg. (gak usah merinding, ini bukan film horor).
Daigo yang awalnya sangat kaget, mau tak mau menerima pekerjaan ini karena bayarannya cukup menggiurkan, tapi dia tak menceritakan hal pekerjaannya ini, karena di sana pekerjaan ini dipandang hina. Sampai Daigo ditinggal pergi istrinya ketika tahu kalau pekerjaanya adalah pengurus jenazah.
Film yang konon memakan waktu persiapan sampai 10 Tahun ini (10 tahun pemirsah….lama amat yak?) menurut gue sangat rapi dan halus. Emosi penonton sangat dijaga sampai adegan puncak. Sedikit sisipan komedinya pun pas tanpa menghilangkan dinginnya film ini. Jadi tidak berlebihan kalau film ini terpilih sebagai Best Foreign Language Movie dalam Academy Award 2009.
Scoring untuk film ini pun sangat-sangat bagus. Makin menyeret penonton ke kehidupan Daigo yang dingin.
Jadi buat yang belum sempet nonton, film ini sangat disarankan untuk metontonnya. hehehheh
Selamat Menonton!

Film: Sebuah Tamasya Visual

Gue kurang inget pastinya sejak kapan gue suka nonton film. Dari masih usia SD barangkali. Waktu itu pernah pengen banget nonton film “LUPUS”. Gue sampai kumpulin dari uang jajan gue, waktu itu belum ada bioskop seperti 21/XXI. Harga tiketnya pun gue sudah lupa berapa. Sampai akhirnya ketahuan nyokap kalau gw sepulang sekolah ngabur cuma buat nonton film, Alhamdulillah gak diomelin :D, Yeaaayyy!!!!
Dan akhirnya kalau ada film yang kira2 menarik, nyokap suka ajak nonton gue dengan beberapa saudara gue buat nonton bareng, seperti film-film “Kabayan” nya Didi Petet, “Saur Sepuh” dan film-film Indonesia di jaman itu. Kalau di TV paling suka dengan serial “Little House on The Praire”, setiap minggu nungguin serial itu 😛 (Dulu cuma ada satu stasiun TVRI :P). Kadang diputar juga film seperti “Oliver Twist” atau “Annie”.
Seiring berjalannya waktu dan bertambah usia…(Njriittt bahasanya), media buat nonton film makin mudah, sampai di jaman nya Video Disc gue makin sering rental film2 yang gue suka. Senangnya!. Sampai akhirnya gue punya rental Video Disc. Senengnya punya banyak film…ahahhaha *norak.
Kenapa gue suka nonton film? Yap, dengan menonton sebuah film, gue serasa bertamasya ke dunia lain, tamasya visual yang ngaduk-ngaduk perasaan. Gue bisa ikut mewek ketika Mel Gibson kehilangan anak nya di “The Patriot”. Sebuah tamasya untuk melihat sisi-sisi lain kehidupan yang mungkin belum pernah kita lihat dan alami. Bahkan kejadian yang belum tentu ada di dunia nyata, bisa ngejawantah dalam sebuah film. Duduk dan hanya terpaku pada layar dalam beberapa waktu (tergantung durasi film) gak akan terasa ketika sebuah cerita film (yang bagus) menyeret kita untuk menangkap esensi-esensi dari setiap dialog dan akting dalam film tersebut. Tak jarang sebuah film mengajak atau memaksa kita untuk berfikir tentang pesan dari isi film tersebut (Bisa makin pinter kan tuh…hehehhe). Biasanya untuk jenis-jenis film ini gue tidak hanya sekali menonton untuk menikmatinya.
Buat gue pribadi, film itu seperti sebuah puisi. Setiap mata yg menontonnya bisa menafsirkan berbeda-beda tentang isi sebuah film, dan itu bukan dosa :P.
Jadi buat gue nonton film itu selain dari cara refreshing yang murah, gue bisa lebih tahu kalau hidup itu tidak cuma segaris. Jadi tunggu apa lagi,
yuk bertamasya visual !