The Guest (2014) : Pembunuh “Berwajah” Dingin.

Keluarga Peterson yang sudah mulai menerima kamatian anaknya, Caleb, di medan perang, tiba-tiba diingatkan kembali dengan datangnya seorang tamu yang mengaku sahabat dekat Caleb sewaktu bertugas. Misterius? ya pastilah , karena dari awal kedatangannya tidak ada rincian siapa, darimana, David (Dan Stevens) sang tamu misterius itu berasal. Nyonya Peterson pun sudah kadung terhipnotis kharisma David yang dingin dan meyakinkan, dan mempersilahkan David untuk jadi tamu spesial keluarga Peterson.

Perlahan David (Yang tampangnya beda-beda tipis lah sama gue :P) mulai memengaruhi seisi rumah, mulai dari anak perempuan Peterson, Anna (Maika Monroe), dibuatnya meleleh, sampai putera bungsu Peterson Luke (Brendan Meyer) dibuatnya merasa punya kakak laki-laki lagi. Sampai kejadian-kejadian geger hadir merubah semuanya.

Film yang di kunceni Adam Wingard (You’re Next, V/H/S) ini, mungkin sengaja dibuat dengan durasi yang tidak terlalu panjang, sekitar 99 menit, agar tidak banyak celah untuk menguliti siapa si mas David ini. Dan cukup berhasil memanfaatkan durasi tersebut dengan tidak bertele-tele. Film yang menurut gue pribadi agak terasa aroma-aroma Tarantino di beberapa scenenya ini, tidak mengahadirkan cerita yang wow banget, tapi akting dari mas Dan Stevens yang cukup meyakinkan, memberi impact yang kuat untuk film ini.

Selamat Menonton!

Wayang Golek: Learn the meaning of life from wooden puppets.

Wayang golek is one of many puppets show in Indonesian cultures, known as traditional puppets from west java, wayang golek being one identity for sundanese people. Several Jokes, life philosophy and the characters in this puppets show given much influence for sundanese. That is why Wayang Golek or another Wayang such as Wayang Kulit, anciently using for proselytism purpose.

Little is known for certain about the history of wayang golek, but scholars have speculated that it most likely originated in China and arrived in Java sometime in the 17th century. Some of the oldest traditions of wayang golek are from the north coast of Java in what is called the pasisir region. This is home to some of the oldest Muslim kingdoms, who used the medium to proselytize Muslim values.

The word wayang refers to both the puppets and the theatre. Dating back the early 16th century, traditional Javanese tales and plays from the Ramayana and Mahabharata were performed. This variety of plays combines Hindu stories with Buddhist and Muslim ideas and Javanese folklore. Usually, the stories are divided into different episodes. They illustrate the fight of good against evil through conflict, culminating in the triumph of the good forces and the destruction of evil. The characters are always arranged on the stage in the same way – good characters to the right of the puppeteer, and bad characters to the left.

The Puppeteer is called “Dalang”, (My Father also one of those puppeteers 😀 , Love you, abah! ) who operated the wayang from below through the rod that connected to the hands and a central control rod that runs through the body to the head. The simple construction of the puppets belies their versatility, expressiveness and aptitude for imitating human motion or dance. The dalang also accompanied by a gamelan (percussion) orchestra and singers (Sinden).

Wayang golek made of albasiah or lame wood. Build with sculpting and carved this, so as to resemble any desired shape. Each puppet has a carved and painted head with an elaborate headdress and a long neck that can swivel. Headdress, costumes and colours vary for each puppet and can also indicate to the audience what kind of character it represents. White means purity, virtue and moral integrity and is often the face colour of princes. Red means aggressiveness and anger. Blue and green face colours mean cowardliness and hypocrisy. Each characters represent how human doing life in good, in bad also, and how the consequences or the impact for another. Besides watching the art show, we also can taking a life lessons from its puppets show.

Adjusted to the time by now, the story of wayang golek show is not only about proselytize, it could be a hot politics issue, social issue, or another funny thing that can tell and entertaining. And many wayang golek are now made for sale to tourists In west Java.

Source : Wikipedia, www.objectlessons.org,

Pictures: www.sundajeungsunda.blogspot.com , www.gojabar.com,

Poster Film: Sebuah Trailer Statis.

Gue masih inget salah satu poster film yang ada disebuah majalah atau apa gue lupa, yang berhasil membangkitkan imajinasi dan membuat gue ingin sekali menonton film itu. Waktu itu usia gue masih sekitar 9 atau 10 tahun mungkin, dan film tersebut rilis tahun 1982, waktu gue baru usia 1 tahun (Ketahuan dah tuanya 😛 ), tapi karena keterbatasan media di tahun-tahun tersebut gue belum bisa menontonnya. Sampai di beberapa tahun kemudian dirumah seorang teman yang punya pemutar video VCR, gue berhasil menonton film tersebut karena ayahnya punya film tersebut. Dan bukan main senangnya akhirnya gue bisa melihat apa yang seperti gue lihat di poster waktu itu, siluet anak bersepeda melintasi bulan.

Yap, film itu adalah E.T (Extra Terrestrial) buah karya Steven Spielberg. Poster film E.T telah berhasil memupuk rasa penasaran gue sampai beberapa tahun. Pengalaman gue ini cukup membuktikan kekuatan sebuah poster dalam membentuk persepsi, imajinasi, dan menyugesti seseorang mengenai isi poster tersebut.

Definisi poster menurut mas wikipedia adalah sebuah karya seni grafis yang memuat komposisi gambar atau huruf atau kombinasi keduanya di atas media yang ukurannya relatif besar. Adapun tujuan dari sebuah poster sangat beragam, bisa untuk media propaganda, kampanye, mempromosikan film, menghimbau masyarakat atau tujuan lainnya. Jadi dalam kasus yang gue alami adalah jenis Poster Film :D.

Sebagai salah satu materi promosi dari sebuah produksi film, poster sudah selayaknya mendapat porsi perhatian yang besar, karena selain trailer yang dirilis untuk memperlihatkan sedikit isi film, poster pun berperan sama, hanya dalam bentuk statis dan sekali tebas. Melalui trailer, orang perlu beberapa menit untuk mengetahui sekilas isi film tersebut, tapi poster umumnya hanya akan dilihat sekilas saja jika ditempatkan di tempat umum. Lain cerita kalau dilihatnya dari sebuah web pengulas film ya, kita bisa memelototi poster tersebut sampai mata pedas. Intinya trailer dan poster sama-sama mempunyai peranan yang penting dalam mempromosikan sebuah film.

Mungkin kita pernah dengar pendapat seseorang tentang sebuah film horror nasional, “ Ah, dari posternya saja sudah kelihatan filmnya jelek, isinya paling banyak esek-esek”, dan orang itu tidak salah karena yang dia tangkap dari posternya mungkin memang seperti itu. Bisa saja persepsi orang itu akan berubah ketika melihat poster film horor yang tidak menonjolkan hal negatif yang ada di film tersebut (Baca: esek-esek), kalaupun orang itu tidak mau menontonnya, setidaknya tidak akan keluar kata-kata “paling isinya esek-esek” yang biasanya di sama ratakan untuk film-film bergenre serupa. Kita tentu masih ingat film “Jelangkung” atau “Tusuk jelangkung” kan? Mereka memasang poster yang sesuai porsinya, kedua film itu laris dan tidak mendapat label negatif :). Bahkan film-film kelas dunia pun tidak sedikit yang kurang mampu menyampaikan isi film mereka kedalam “Trailer Statis” ini. Jadi “Kreatif” adalah satu kata yang diperlukan dalam membuat semua jenis poster.

Salah satu poster film nasional era 2000-an yang menjadi favorit gue adalah poster film Ada Apa Dengan Cinta, dan gue rasa banyak yang setuju, hehehhe. Komposisi garis warna-warna ceria sangat mewakili selera remaja, kalau saja garis warna-warni itu dihilangkan, gue rasa poster itu akan berasa biasa dan tidak akan melekat diingatan :D. Sudah jelas poster ini buah dari pendalaman dan kreatifitas. Meskipun kadang desainer harus menyerah dengan selera pihak-pihak tertentu yang seleranya dibawah harapan desainer. Begitu menurut yang pernah gue baca :D.

Selamat melihat-lihat trailer film baik dinamis ataupun statis 🙂

Love Actually (2003) : My Fav Christmas Movie.

Film bertabur bintang dengan beberapa inti cerita bukan hal aneh lagi, tapi sepertinya film jenis ini yang pertama gue tonton adalah Love actually.  Liam Neeson, Hugh Grant, Emma Thompson, Alan Rickman, Colin Firth, Keira Knightley, Bill Nighy, Rowan Atkinson adalah beberapa aktor Inggris yang memamerkan akting mereka di dalam film komedi romatis ini.

Menyajikan perjuangan cinta masing-masing tokoh. Perselingkuhan, cinta beda kasta, cinta tak tersampaikan hingga cinta orang tua dan anak, cinta pada sahabat, menjadi menu yang diracik Richard Curtis dengan manis dan pas.

Seorang Rock star tua yang nyeleneh membuat berbagai sensasi untuk mencapai chart tangga lagu untuk single nya, hubungan dengan manager yang selalu kewalahan dengan tingkah sang artis tapi selalu bersabar membawa kesadaran sang rock star kalau cinta bukan hanya hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan. Seorang istri yang diselingkuhi suaminya dengan salah satu karyawan ditempat suaminya bekerja, harus disikapi dengan bijak demi cintanya pada anak-anak. Dua bintang film dewasa yang menemukan cinta dari lokasi shooting. Pengorbanan seorang kakak untuk adiknya yang mempunyai masalah mental sehingga mengesampingkan kehidupan pribadinya. Dua orang yang saling jatuh cinta dengan komunikasi dua bahasa yang berbeda. Atau seorang Perdana Mentri yang jatuh cinta pada salah satu staffnya. Adalah beberapa kisah yang cukup membuat kita merenung, apa sebenarnya makna cinta itu.

“Love Actually Is All Around”

PS: Ada beberapa adegan dewasa yang belum pantas di tonton anak-anak 🙂

Selamat Menonton!

The Perks of Being a Wallflower (2012) : “Let’s Be Psychos Together”.

Masa-masa SMU selalu identik dengan kata remaja dan perjalanan menuju pendewasaan karakter (baca: pencarian jati diri). Demikian pula yang ingin disampaikan Stephen Chbosky dalam film yang ditulis (buku dan screenplay) dan disutradarainya ini. Menghadirkan masa awal si tokoh utama dalam menjalani tahun-tahun di sebuah sekolah menengah atas. Melihat dari sudut pandang siswa yang jadi bahan “Bullying” karena pemalu dan penyendiri.

Charlie Kelmeckis_Logan Lerman (Percy Jackson, 3:10 to Yuma, The Three Musketeers, Noah, Fury) adalah seorang remaja yang terbentuk menjadi seorang yang pemalu dan penyendiri dan otomatis jadi aneh di mata remaja lain yang umumnya “gaul” di usia-usia sekolah menengah ini. Menyukai buku dan musik bukanlah modal yang cukup untuk masuk jajaran anak gaul. Tidak ada yang menyenangkan dari hari-hari awal Charlie, sampai bertemu dengan dua seniornya yang juga dua saudara tiri “aneh”. Patrick_Ezra Miller (We need to talk about Kevin) dan Sam_Emma Watson (Harry Potter, My Week With Marylin, Ballet Shoes, Noah), berhasil membawa Charlie ke dalam kehidupan mereka yang lebih open mind, ceria dan menjalani hidup dengan apa yang sudah diberikan.

Penokohan yang kuat membuat film remaja ini mempunyai kekuatan untuk membuat penontonnya tidak ngantuk dengan cerita khas remaja yang sudah banyak di filmkan. Ketiga bintang utama film ini saling menunjukan kepiawaian mereka berakting. Charlie yang berubah dari karakter pendiam menjadi lebih ceria dibawakan apik oleh Lerman, Patrick yang seorang gay harus menyembunyikan identitas seksualnya di mata teman-temannya mampu ditampilkan Miller dengan tak kalah apiknya, Sam yang lebih wise diantara ketiganya telah membuktikan Watson bukan lagi Hermione yang cuma jago sihir, heheheh. Masing-masing membawakan sisi ceria dan sisi kelam karakter ke dalam film yang berhasil memenangkan beberapa penghargaan dan nominasi di berbagai ajang film festival. Didukung dengan pemain-pemain lain yang sama bagusnya membuat The Perks of Being a Wallflower jadi film remaja terbaik yang pernah gue tonton :D.

Chbosky berhasil merangkum pahit manisnya kehidupan remaja dengan segala permasalahnnya ke dalam durasi 102 menit. Dan selepas menonton kita akan mengingat-ingat apa yang dulu pernah terjadi dalam masa-masa sekolah kita :D. Like Sam said, Let’s be psycho together.